Monday, March 11, 2019

Perkembangan Pandangan Geografi

Sepanjang sejarah, Geografi ditandai dengan perkembangan metodologi tentang lingkup dan isi Geografi. Berikut ini kronologi perkembangan pandangan tentang Geografi dari masa ke masa.

1. Pandangan Geografi Klasik

Pada awal masa ini pandangan mengenai Bumi masih dipengaruhi oleh mitologi. Seiring dengan perkembangan ilmu alam sejak abad ke-6 sebelum masehi, corak pengetahuan tentang Bumi mulai mempunyai dasar ilmu alam dan ilmu pasti. Hingga satu babad sebelum masehi, Geografi banyak dipengaruhi oleh astronomi dan matematika. Namun pada masa ini secara garis besar Geografi masih berupa cerita-cerita atau deskripsi murni tentang daerah. Tokoh-tokoh yang muncul pada masa ini antara lain:
 


Thales
Thales telah menyibukkan diri dengan berbagai penelitian dan menggali informasi Geografi dengan melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Beliau berpendapat bahwa Bumi merupakan sekeping silinder yang terpung di atas air dengan separuh bola hampa di atasnya. Namun pendapat itu kemudian terbantahkan dengan pernyataaan Permenides bahwa Bumi berbentuk bulat, seabad setelah Thales mengemukakan pendapatnya.
 

Phyteas
Jasa Phyteas dalam Geografi adalah beliau melakukan pengukuran jarak Bumi dan Matahari. 


Herodotus
Herodotus sesungguhnya lebih dikenal sebagai ”Bapak Sejarah”. Herodotus mengemukakan pendapat tentang adanya hubungan yang erat antara perkembangan masyarakat dengan faktor-faktor Geografi di wilayah yang bersangkutan serta membahas lembah Sungai Nil yang subur tanahnya. Selain itu, Herodotus telah berhasil membuat peta dunia. Dunia oleh Herodotus dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu Eropa, Asia, dan Amerika.
 


Erathosthenes
Erathostenes dikenal sebagai ”Bapak Geografi” karena dari beliaulah istilah ”Geografi” muncul. Beliau melakukan penghitungan keliling Bumi, bahkan hasil penghitungannya hanya berselisih sebesar 1% dari ukuran Bumi yang diperoleh dengan sistem penghitungan Modern. Eratosthenes juga menyatakan bahwa Bumi berbentuk bulat, membagi bola Bumi berdaserkan garis lintang dan garis bujur, serta adanya pergeseran matahari yang mempengaruhi iklim di Bumi. Oleh karena itu, Eratosthenes dianggap sebgai peletak dasar Geografi yang pertama.
 

Strabo
Strabo menulis buku yang berjudul ”Geographica”, yang isinya mengenai uraian tentang dunia yang didiami oleh manusia. Ia telah mencoba menguraikan betapa besar pengaruh lingkungan setempat terhadap pengelompokan kebudayaan dan pemerintahan. Strabo juga berpendapat bahwa Geografi itu berkenaan dengan faktor lokasi, karakteristik tertentu, dan hubungan antara satu tempat dengan tempat lainnya di permikaan Bumi secara keseluruhan.
 

Claudius Ptolomeus
Dalam bukunya “Geographike Unphegesis” menerangkan bahwa Geografi adalah suatu penyajian dengan peta dari sebagian permukaan Bumi yang menunjukkan kenampakan umum yang terdapat padanya. Kumpulan peta yang dihasilkan terkenal dengan atlas ptolomeus. Ptolomeus juga membedakan antara Geografi dengan chorografi. Chorografi adalah pembicaraan mengenai wilayah atau region tertentu dan menyajikannya secara mendalam. Chorografi lebih menekankan hal-hal yang bersifat kuantitatif dan bukan hal-hal yang bersifat kualitatif. Pendapat Ptolomeus ini merupakan sumber bagi definisi Geografi zaman modern. Selain itu, Ptolomeus juga menyusun nama-nama tempat dilengkapi lokasi menurut garis bujur dan garis lintang.


2. Pandangan Geografi pada Abad Pertengahan dan ”Renaissance”

Abad ini ditandai dengan adanya dualisme ganda dalam konsep Geografi, yaitu dualisme antara Geografi Umum (Geographia Generalis) dan Geografi Khusus (Geographia Spesialis) di satu sisi dengan Geografi Fisikal dan Geografi Manusia disisi yang lain.Tokoh yang terkenal dari abad ini adalah Bernhardus Varenius. Seorang Geograf dari Jerman yang menulis buku ”Geographia Generalis. Dalam bukunya tersebut, Varenius berpendapat bahwa terdapat dualisme dalam Geografi.Di satu pihak, Geografi mempelajari sesuatu yang bersifat alamiah, termasuk hubungan antara Bumi dan Matahari. Di pihak lain Geografi juga mempelajari fenomena sosial budaya.

3. Pandangan Geografi Modern

Pada abad ini, ciri khas geografi adalah adanya perhatian pada interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Tokoh yang berpengaruh pada abad ini antara lain:
 

Immanuel Kant
Semua gagasan Kant tentang hakikat Geografi dapat ditemikan dalam buku Physische Geographie. Menurutnya, Geografi adalah ilmu yang objek studinya adalah benda-benda, hal-hal atau gejala-gejala yang tersebar dalam wilayah di permukaan Bumi. Immanuel Kant telah menganggap Geografi sebagai disiplin ilmiah.
 

Alexander von Humbold
Humbolt diakui sebagai peletak dasar Geografi fisik modern. Konsepnya cenderung menjelaskan gejala alam pada permukaan Bumi, seperti kaitan antara matahari dengan Bumi, cuaca dan iklim, hubungan vegetasi dengan ketinggian tempat, serta proses-proses yang berkaitan dengan hidrosfer dan biosfer. Namun demikian Humboldt tidak melupakan faktor manusia.

Karl Ritter
Ritter memandang permukaan Bumi sebagai tempat tinggal manusia, dan menggolongkan permukaan Bumi menjadi wilayah alamiah terutama berdasarkan bentang alamnya, dan mempelajari unit wilayah alamiah ini bagi masyrakat yang menempatinya. Ritter termasuk aliran fisis determinisme yang memandang faktor alam menentukan gejala kemanusiaan dalam arti kehidupan manusia sangat ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan alam.

4. Pandangan Geografi pada akhir abad ke- 19 dan awal abad ke-20

Sejak pertengahan abad ke-19 terdapat kemajuan pesat di bidang ilmu alam dan biologi. Akibatnya perkembangan Geografi juga mengarah ke aspek-aspek fisik seperti iklim, tumbuh-tumbuhan, dan hewan, serta bentangan alam seperti geomorfologi. Pada awalnya para ahli Geografi cenderung membelokkan Geografi ke arah ilmu alam murni. Sehingga masa ini juga dikenal sebagai periode pengagungan alam. Namun menjelang abad 20 perhatian terhadap Geografi juga sudah mulai muncul. Tokoh-tokoh Geografi pada abad ini, antara lain sebagai berikut:
 

Powell (1834-1902)
Ia melanjutkan pemikiran Humbolt dan Ritter untuk mengetahui sejauh mana kondisi lingkungan alam telah memepengaruhi kehidupan sosial dan kemajuan sosial manusia.
 

Friederich Ratzel (1844-1904)
Ratzel mendalami pengaruh lingkungan alam terhadap kehidupan manusia dan menuangkan dalam bukunya ”Anthropogeographie”. Ratzel tidak menitikberatkan pada pengaruh lingkungan alam terhadap manusia, tetapi kedua fenomena ini sma kedudukannya. Ratzel mengemukakan konsep labensraum yang artinya wilayah Geografis sebagai sarana bagi organisme untuk berkembang. Ia melihat suatu negara cenderung meluaskan labensraumnya sesuai kekuatan yang ia miliki.
 

Elsworth Huntington (1876-1947)
Dalam bukunya ”The Pulse of The Earth”, ia memaparkan bahwa kelangsungan hidup dan peradaban manusia sangat dipengaruhi oleh iklim. Atas dasar teorinya tersebut, Huntington terkenal sebagai tokoh determinisme iklim (memandang iklim sebagai penentu kehidupan).
 

Paul Vidal de La Blache (1845-1918)
Vidal adalah pelopor posibilisme dalam Geografi. Secara tegas posibilisme menyatakan lingkungan alam menawarkan sejumlah kemungkinan (posibilities) kepada manusia untuk hidup dan berkembang. Vidal mengemukakan konsep Genre de Vie atau Mode of Live (cara hidup).

5. Pandangan Geografi Mutakhir

Geografi pada masa kini lebih banyak menggunakan statistik dan metode kuantitatif. Metode ”wilayah” masih merupakan alat yang penting. Namun ”wilayah” bukan merupakan tujuan akhir. Geografi mutakhir bersifat ”wilayah” bukan tentang ”wilayah”

No comments:

Post a Comment